Dimanakah Posisi Imam Perempuan Ketika Shalat Berjamaah?

Jamaah perempuan dengan imam pada posisi di tengah
Mayoritas Ulama Fiqih dari kalangan Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah membolehkan seorang perempuan menjadi imam asalkan makmumnya perempuan juga. Berbeda dengan jumhur ulama, kalangan Al-Malikiyah tidak membolehkan perempuan menjadi imam meskipun makmumnya wanita.

Namun di mana kah posisi perempuan ketika menjadi imam? Apakah sama dengan laki-laki? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, berikut penjelasannya:

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Madzhab ini menyebutkan bahwa posisi perempuan yang menjadi imam bagi jamaah perempuan seharusnya bangkit ditengah shaf.

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Mabsuth menuliskan sebagai berikut :

فِي وَسَطِ الصَّفِّ يُشْبِهُ جَمَاعَةَ النِّسَاءِ

Posisi imam perempuan berada ditengah shaf sejajar dengan jama’ahnya.[1]

Beliau juga membolehkan bila perempuan yang menjadi imam itu bangkit agak kedepan. Sebagaimana ia menuliskannya:

فَإِنْ صَلَّيْنَ بِالْجَمَاعَةِ قَامَتْ إمَامُهُنَّ وَسَطَهُنَّ، وَإِنْ تَقَدَّمَتْهُنَّ جَازَ

Jika para perempuan shalat dengan berjamaah, maka yang menjadi imam bangkit sejajar ma’mum, namun bila ia sedikit maju ke depan juga boleh[2]

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' menuliskan sebagai berikut :

حَتَّى لَوْ أَمَّتْ النِّسَاءَ جَازَ، وَيَنْبَغِي أَنْ تَقُومَ وَسَطَهُنَّ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - أَنَّهَا أَمَّتْ نِسْوَةً فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ وَأَمَّتْ أُمُّ سَلَمَةَ نِسَاءً وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ

Diperbolehkan bagi seorang perempuan untuk menjadi imam, dan posisinya yaitu di tengah menyerupai diriwayatkan oleh Aisyah radiyallahuanha: bahwa ia mengimami para perempuan untuk shalat ashar dan ia bangkit ditengah shaf kemudian mengimami para perempuan dan bangkit ditengahnya. Dan Ummu Salamah juga pernah melaksanakan hal yang sama.[3]

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

(قَوْلُهُ فَإِنْ فَعَلْنَ قَامَتْ الْإِمَامُ وَسَطَهُنَّ)

Apabila seorang perempuan menjadi imam, maka ia bangkit ditengah sejajar dengan mereka.[4]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam Madzhab Maliki, perempuan tidak sah menjadi imam shalat, baik mengimami jamaah pria maupun mengimami perempuan, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah
Al-Kharasyi (w. 1101 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Syarah Mukhtashar Khalilmenuliskan sebagai berikut :

أنه لا تصح إمامة المرأة سواء أمت رجالا أو نساء في فريضة أو نافلة

Seorang perempuan tidak sah menjadi imam, baik bila makmumnya pria ataupun perempuan, baik dalam shalat fardhu ataupun shalat sunnah.[5]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Sebagaimana madzhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, madzhab As-Syafi’iyah juga menyebutkan bahwa posisi perempuan yang menjadi imam yaitu di tengah shaf. As-Syairozi (w. 476 H) salah satu ulama madzhab Asy-Syafi'iyah dalam kitabnya Al-Muhadzdzab menyatakan:

* (السُّنَّةُ أَنْ تَقِفَ إمَامَةُ النِّسَاءِ وَسْطَهُنَّ لِمَا رُوِيَ أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَمَّتَا نِسَاءً فَقَامَتَا وَسْطَهُنَّ

Sunnah hukumnya bagi Wanita yang menjadi imam bagi perempuan lainnya untuk bangkit di tengah-tengah mereka, sebagaimana Aisyah radiyallahuanha dan Ummu Salamah mengimami para perempuan dan mereka bangkit sejajar dengan mereka.[6]

An-Nawawi (w. 676 H) yang juga ulama Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin Wa Umdatu Al-Muftiyyin:

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ تَقِفَ إِمَامَتُهُنَّ وَسَطَهُنَّ، وَجَمَاعَتُهُنَّ فِي الْبُيُوتِ أَفْضَلُ.

Disunnahkan bagi perempuan yang mengimami perempuan lainnya untuk bangkit sejajar dengan mereka dan posisinya di tengah, dan shalatnya lebih baik dilakukan dirumah.[7]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi'iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

)وَتَقِفُ) نَدْبًا (إمَامَتُهُنَّ وَسْطَهُنَّ) لِمَا رَوَى الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادَيْنِ صَحِيحَيْنِ أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَمَّتَا نِسَاءً فَقَامَتَا وَسْطَهُنَّ

Seorang perempuan yang menjadi imam bagi perempuan lainnya disunnahkah untuk bangkit di tengahnya sebagaimana riwayat Al-Baihaqi dalam dua sanadnya yang shahih bersama-sama Aisyah dan Ummu Salamah radiyallahuanhuma ketika menjadi imam, keduanya bangkit sejajar dengan mereka (makmum).[8]

Dalam kitabnya yang lain, Fathu Al-Wahhab Syarah Minhaj Ath-Thullab, ia juga menuliskan sebagai berikut:

" وَ " أَنْ تَقِفَ " إمَامَتُهُنَّ وَسْطُهُنَّ " بِسُكُونِ السِّينِ أَكْثَرَ مِنْ فَتْحِهَا كَمَا كَانَتْ عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ تَفْعَلَانِ ذَلِكَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادَيْنِ صَحِيحَيْنِ

Seorang perempuan yang menjadi imam maka ia bangkit sejajar dengan makmum sebagaimana hadits Aisyah dan Ummu Salamah.[9]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

(وَتَقِفُ إمَامَتُهُنَّ) نَدْبًا (وَسْطَهُنَّ) بِسُكُونِ السِّينِ لِثُبُوتِ ذَلِكَ عَنْ فِعْلِ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.

Seorang perempuan yang menjadi imam disunnahkan untuk bangkit ditengah sejajar dengan ma’mum menurut hadits Aisyah dan Ummu Salamah radiyallhuanhuma yang diriwayatka oleh imam Al-Baihaqi dengan sanad shahih.[10]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Madzhab ini juga beropini yang sama namun salah ulama di madzhab ini juga membolehkan bila ia bangkit agak kedepan. Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughnimenuliskan sebagai berikut :

(وَإِنْ صَلَّتْ امْرَأَةٌ بِالنِّسَاءِ قَامَتْ مَعَهُنَّ فِي الصَّفِّ وَسَطًا)

Dan bila seorang perempuan shalat berjamaah dengan sesama perempuan lainnya maka imamnya bangkit dalam shaf yang sama dan berada ditengah.[11]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

قَوْلُهُ {وَإِذَا صَلَّتْ امْرَأَةٌ بِنِسَاءٍ قَامَتْ وَسَطَهُنَّ} هَذَا مِمَّا لَا نِزَاعَ فِيهِ لَكِنْ لَوْ صَلَّتْ أَمَامَهُنَّ وَهُنَّ خَلْفَهَا، فَالصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّ الصَّلَاةَ تَصِحُّ

Seorang perempuan bila menjadi imam bagi perempuan lainnya maka ia bangkit ditengah sejajar dengan makmum, tapi apabila si imam perempuan ini bangkit di depan para makmum wanitanya , maka shalatnya tetap sah.[12]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Madzhab ini juga menyebutkan hal yang sama. Bahwa posisi perempuan bila menjadi imam maka ia bangkit ditengah shaf sejajar dengan jamaah.

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsarmenuliskan sebagai berikut :

وَأَمَّتْهُنَّ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ فَحَسَنٌ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ نَصٌّ يَمْنَعُهُنَّ مِنْ ذَلِكَ.

Jika perempuan mengimami jamaah perempuan lainnya hukumnya boleh, alasannya yaitu tidak ada nash yang melarangnya.[13]

Hal itu didasarkan pada hadits Aisyah berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ: أَنَّهَا أَمَّتْ نِسَاءً فِي الْفَرِيضَةِ فِي الْمَغْرِبِ، وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ، وَجَهَرَتْ بِالْقِرَاءَة

Dari Aisyah ummul mukminin: bersama-sama dia mengimami para perempuan dalam shalat maghrib, ia (Aisyah ra) bangkit di tengah2 mereka dan mengeraskan bacaannya.[14]

Penutup
Setelah mengetahui pendapat masing-masing ulama tiap madzhab, sanggup disimpulkan bahwa semua madzhab selain Maliki menyebutkan bahwa posisi perempuan yang menjadi imam bagi jamaah perempuan lainnya yaitu di tengah dan sejajar dengan shaf. Berdasarkan hadits Aisyah dan Ummu Salamah radiyallahuanhuma.

Namun beberapa ulama dari madzhab Al-Hanafiyyah dan Al-Hanabilah juga membolehkan bila ia bangkit sedikit kedepan.

Hanya madzhab Maliki saja yang sama sekali tidak membolehkan perempuan menjadi imam meskipun jamaahnya wanita, baik itu shalat fardhu ataupun sunnah. Wallahu’alam.

REFERENSI:
[1] As-Sarakhsi, Al-Mabshuth, jilid 1 hal 43.
[2] As-Sarakhsi, Al-Mabshuth, jilid 1 hal 187.
[3] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal 157.
[4] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal 353.
[5] Al-Kharasyi, Syarah Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal 22.
[6] As-Syairozii, Al-Muhadzdab Fi Fiqhi Al-Imam Asy-Syafii, jilid 1 hal 189.
[7] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 1 hal 340.
[8] Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarh Raudhu At-Thalibjilid 1 hal 209.
[9] Zakaria Al-Anshari, Fathu Al-Wahhab Syarah Minhaj Ath-Thullab, jilid 1, hal 76.
[10] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1, hal 493.
[11] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal 148.
[12] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 2 hal 299.
[13] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal 167.
[14] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal 168.

Oleh: Miratun Nisa