Kunci Rahasia Agar Rezeki Bisa Datang Sendiri

Inilah Konsep Rezeki. Dengan memahami konsep rezeki, Anda bisa menemukan cara bagaimana agar rezeki bisa diantar oleh Tuhan SWT. Rezeki datang sendiri.

Manusia dan Kemilau Dunia


Tidak banyak orang tahu bahwa insan dan kemilau dunia sudah Tuhan pasangkan secara kodrati. Sudah takdir. Sudah sunatullah.

Kita sebagai manusia, makhluk Tuhan SWT yang paling mulia, memang diciptakan berikut dengan hawa nafsu untuk mencintai dunia. Makhluk yang lain? Tidak. Lihat saja kambing. Kambing tidak suka dengan kendaraan beroda empat mewah. Lihat pula semut. Apakah semut suka dengan uang? Yang semut butuhkan ialah gula sebegai sumber energi.

Berbeda dengan manusia. Deposito, kendaraan beroda empat mewah, rumah mewah, anak shaleh, keturunan, istri, wanita cantik. Secara naluri, memang sudah Tuhan pasangkan itu semua untuk manusia.

Mau tahu ayatnya? Simak firman Tuhan berikut ini.
“Dijadikan cantik pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah daerah kembali yang baik. (QS Ali Imraan: ayat 14)
Jadi, kalau kita suka dengan dunia itu wajar. Kita berdoa kepada Tuhan berharap dunia, itu wajar. Kita berdoa minta rezeki yang banyak, itu wajar. Kita berdoa minta rumah yang bagus untuk membahagiakan keluarga, itu wajar. Kita berharap bisa melunasi hutang, itu wajar. Kita berdoa minta uang yang banyak biar bisa bermanfaat untuk orang lain, itu wajar.

Lalu apa yang tidak wajar? Meminta dunia kepada SELAIN ALLAH. Itu yang TIDAK wajar.

Kalau Anda ingin mempunyai kendaraan beroda empat mewah, lalu berharap kepada sang DUKUN, itulah yang tidak wajar.

Saya tidak suka ya dengan orang-orang yang bicaranya asal bicara, tanpa dasar, dan keyakinannya setengah-setengah. Sering ya kita mendengar orang lain yang berkata:

“berdoa kok berharap dunia?”
“sedekah kok pengen dibalas?”
“ibadah kok ingin dunia?”
“shalat kok ingin kaya?”

Sebagai muslim yang beriman, YAKIN-lah bahwa Tuhan SWT satu-satunya Tuhan. Hanya Allah-lah Sang Pemilik Dunia dan segala isinya. Jika bukan kepada Tuhan kita berharap dunia, lalu kepada siapa kita berharap? Tolong dijawab!

Andai kita ingin mempunyai kendaraan beroda empat (untuk membahagiakan keluarga kita), apakah ada orang lain yang mau ngasih?

Andai kita sedang dililit utang yang banyak, apakah ada orang lain yang mau melunasi hutang kita?

Kita tidak punya uang, lalu kita meminta kepada orang lain, yang ada malah kita menjadi hina. Bukan uang yang kita dapatkan, malah hinaan yang kita telan.

***

Sekali lagi, jikalau kita ingin berubah hidup, jikalau kita ingin menjadi kaya, jikalau kita ingin mempunyai kekayaan harta yang banyak, mintalah kepada Tuhan SWT. Berdoa.

Kalaupun kita terpaksa meminjam uang kepada orang lain untuk melunasi hutang, baiknya berdoa dulu kepada Allah. Berdoa biar Tuhan memudahkan jalan keluar dari problem kita. Masalah hutang.

Kalaupun kita terpaksa harus kredit mobil, baiknya berdoa dulu kepada Allah. Siapa tahu, tanpa harus kredit, kita bisa menerima kendaraan beroda empat yang kita idamkan.

Jadi, langkah pertama ialah Allah. Berdoa kepada Tuhan SWT. Selanjutnya, lengkapi dengan ikhtiar. Lengkapi dengan usaha.

Konsep Rezeki


Kesenangan dunia yang tidak membawa kepada kesenangan negeri selesai ialah kesenangan yang sia-sia.

Konsep rezeki ialah apa yang Tuhan berikan untuk kita. Rezeki ialah apa yang segala Tuhan berikan untuk bisa kita nikmati. Rezeki bukan hanya uang.

Banyak orang yang berdoa minta “rezeki yang banyak”, padahal maksud dalam hatinya ialah “uang yang banyak”. Walhasil, jangan heran apabila kita tidak menerima uang yang banyak. Rezeki itu umum. Kesehatan juga rezeki. Bahkan, kesehatan ialah harta yang paling berharga. Jadi, jikalau kita berdoa meminta rezeki yang banyak, sementara tubuh Anda sehat-sehat saja, keluarga juga sehat, itu tandanya Tuhan sudah mengabulkan doa kita. Meskipun kenyataannya kita masih kekurangan uang.

Sekali lagi rezeki bukan hanya uang. Rezeki bukan hanya harta.

Ilmu juga rezeki. Bisa membaca Al Alquran juga rezeki. Bisa membaca dan menulis juga rezeki. Buktinya, dengan bisa membaca dan menulis Anda bisa bekerja dan menerima gaji.

Anak juga rezeki. Apalagi anak shaleh, sholehah. Cerdas pula. Kalau ada pasangan yang belum mempunyai keturunan, kan suka ada yang bilang ya “mungkin belum rezeki kali.” Jadi, anak = rezeki.

Tidak ada-lah makhluk di dunia ini yang tidak Tuhan kasih rezeki. Semuanya Tuhan kasih rezeki. Perbedaannya, ada yang lebih banyak, ada pula yang lebih sedikit. Banyak atau sedikit rezeki itu tergantung besarnya usaha kita. Masa mau disamain antara yang malas dengan yang rajin?

Rezeki itu ada yang harus dijemput, ada pula yang diantar. Bahkan adapula yang tidak disangka-sangka. Semua tergantung usaha. Semua tergantung amal. Semakin banyak amal, semakin banyak rezeki.

Menjemput rezeki

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjemput rezeki. Secara umum, usaha secara lahiriah mutlak diperlukan. Contoh: bekerja di kantor, bekerja di pabrik, berdagang, jualan di pasar, menjadi pengusaha, menjadi developer perumahan, menjadi guru, dan sebagainya.

Namun, ada hal-hal yang bisa mempermudah proses penjemputan rezeki. Ada pula yang mempersulit proses tersebut.

Shalat lima waktu, mengajar di kelas, lembur tanpa minta dibayar, sharing ilmu melalui blog, dan segala amal baik lainnya. Semua itu bisa mempermudah proses penjemputan rezeki.

Lalu, sebaliknya segala amal buruk bisa menghambat bahkan mempersulit penjemputan rezeki. Contoh: korupsi uang, korupsi waktu, terlalu perhitungan (hanya mau bekerja jikalau dibayar), tidak mau membantu orang lain, pelit, pamer, ingin terlihat kaya, suka menfitnah, suka ngomongin orang, dan lain sebagainya.

Agar Rezeki Diantar oleh Allah

Kalau tadi harus menjemput rezeki, sekarang malah ada rezeki yang tidak perlu dijemput. Rezekinya sudah diantar. Rezeki datang sendiri. Bagaimana caranya? Apa Kunci Rahasia Agar Rezeki Bisa Datang Sendiri?

Jawabannya:
Lakukan amal-amalan sunnah. Tentu, jangan lupakan amal-amalan yang sifatnya wajib.

Amal-amalan sunnah yang mengundang datangnya rezeki contohnya adalah:
Shalat Dhuha, Shalat Tahajjud, Sedekah, Puasa Senin Kamis, Membaca Al Quran, Menghafal Al Quran, dan sebagainya.

Bicara Shalat Duha, selain mengundang datangnya rezeki, shalat ini bisa membuat kita bebas waktu. Bisa menikmati banyak waktu bersama keluarga, tanpa harus pusing memikirkan urusan rezeki dan keuangan. Dhuha artinya itu sama dengan waktu. Waktu dhuha. Dalam filosofi bisnis, waktu ialah uang. Betul apa betul?

Banyak orang yang mempunyai banyak uang, namun tak punya waktu. Kerja terus. Gak ada waktu untuk mendampingi keluarga, mengunjungi sobat dan saudara, gak ada waktu jalan-jalan, gak ada waktu untuk liburan, termasuk waktu untuk shalat.

Ada pula orang yang mempunyai banyak waktu namun tak punya uang. Ini sih biasanya pengangguran. Waktunya banyak, tapi uangnya seret.

Insya Allah, jikalau kita rajin shalat dhuha, termasuk amal-amalan sunnah yang lainnya, perkara rezeki bukanlah hal yang susah. Rezeki bisa datang sendiri, diantar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pemberi Rezeki.

Rezeki yang tidak disangka-sangka

Kalau yang ini, hanya berlaku bagi orang tertentu saja. Tidak berlaku bagi semua orang. Hanya orang yang bertakwa yang bisa menerima ini. Yang suka maksiat dan meninggalkan kewajiban, jangan harap bisa dapat ini. Jangan harap bisa menerima rezeki yang tidak disangka-sangka.

Kata kuncinya ialah takwa.

Bertakwa bisa diartikan sebagai kepekaan batin yang sangat tinggi dari seseorang terhadap sesuatu yang baik maupun yang buruk, sehingga ia bisa memilih tindakan terbaik untuk dirinya.
***

Kalau dilihat secara hirarkis, tingkatan rezeki berbading lurus dengan tingkatan amal.
  • Amal standar (hanya mengerjakan yang wajib), yaa rezekinya juga standar. Amal standar, rezekinya harus dijemput.
  • Amalnya meningkat (bukan hanya yang wajib, yang sunnah pun dikerjakan), rezekinya juga meningkat. Rezeki bisa Tuhan antar, kapan pun kita mau. Kapan pun kita butuh.
  • Amalnya lebih meningkat lagi (dilengkapi dengan syukur, tawakkal, pasrah diri, taubat, banyak istighfar, takwa), siap-siap untuk menerima suprise dari Allah. Rezeki yang tidak diduga.

Dunia ini memang disedikan untuk kita, manusia. Tapi, kita jangan memaksakan diri dengan hal-hal yang di luar batas kewajaran. Sebab bila itu terjadi, bukan dunia yang terengkuh, melainkan bayangan neraka.
Ust. Yusuf Mansur